DSpace logo

Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uksw.edu/handle/123456789/1481
Title: Studi Sosio-Antropologis Tentang Sasi dan Denda 9-9 di Negeri Hunitetu Kabupaten Seram Bagian Barat
Authors: F. Sopamena, Tiras
Keywords: Sasi;Denda 9-9;Hunitetu;Kesadaran Kolektif;Sakral;Profan;Totem
Issue Date: 2012
Publisher: Magister Sosiologi Agama Program Pascasarjana FTEO-UKSW
Abstract: Penelitian ini bertujuan menjawab permasalahan tentang apa makna sasi dan denda 9-9 dalam kehidupan masyarakat Hunitetu. Sasi merupakan bentuk (tanda) larangan adat yang bertujuan “men-taboo-kan atau men-sakral-kan sesuatu barang untuk tidak diambil atau sekedar didekati orang lain dalam waktu tertentu. Pelanggran terhadap sasi akan dihukum dengan denda 9-9, karena itu, sasi merupakan manifestasi dari praktek denda 9-9. Dengan demikian, sasi dapat dipahami sebagai norma yang mengatur dan membatasi perilaku setiap individu, kelompok bahkan masyarakat agar tetap tercipta kehidupan sosial yang damai dan harmoni. Teori yang digunakan untuk meganalisis permasalahan ini adalah teori agama menurut Durkheim dengan beberapa konsep dasar, yakni: kesadaran kolektif, sakral dan profan, totemisme, taboo dan effervescent. Penelitian ini dilakukan di Negeri Hunitetu, Kabupaten Seram Bagian Barat, dengan menggunakan metode kualitatif. Berdasarkan hasil analisis, dapat diformlasikan beberapa temuan penting diantaranya, bahwa sasi dan denda 9-9 dimaknai sebagai nilai dan norma yang berfungsi men-transendensi-kan realitas imanen masyarakat Wemale. Penyebutan denda 9-9 juga mengingatkan kesadaran kolektif masyarakat tentang: a) Adanya 99 kapata yang mengintegrasikan masyarakat Nunusaku di Maluku; b) Kebeadaan kelompok “persekutuan sembilan” – Pata Siwa; c) Ungkapan “Nudua Siwa” yang terdiri dari 9 Negeri dan 9 Soa; dan d) Puteri Hainiwele yang panjang rambutnya 9 depa. Rujukan pada sejarah masa lalu tersebut berimplikasi pada sikap ketaatan masyarakat terhadap praktek denda 9-9 sehingga tatanan sosial masyarakat tetap terjaga. Denda 9-9 adalah Totem. Selain itu, makna sasi dan denda 9-9 dapat juga diformulasikan sebagai: a). Norma yang mendorong sekaligus membatasi tindakan individu maupun tidakan sosial dalam berinteraksi, termasuk hubungannya dengan alam; b). Bentuk penghargaan bagi orang yang tanda sasi-nya tidak dipatuhi oleh orang lain; c). Bentuk penghargaan kepada agama Nunusaku, atau praktek adat yang bertransendensi ke Upu Lanite demi menjaga dan menjamin solidaritas dan d). Upaya memulihkan soldaritas kelompok atau upaya mengembalikan moral kolektif yang dirusak karena pelangaran sasi.
Description: Lembar Pengesahan tidak disertai tanda tangan dosen pembimbing
URI: http://repository.uksw.edu/handle/123456789/1481
Appears in Collections:T2 - Master of Religion Sociology

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
xT2_752010002_Judul.pdfHalaman Judul1.25 MBAdobe PDFView/Open
xT2_752010002_Daftar Pustaka.pdfDaftar Pustaka363.39 kBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.