DSpace logo

Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uksw.edu/handle/123456789/2860
Title: Manajemen Konflik dalam Gereja (Suatu Tinjauan Ekklesiologis terhadap Model Manajemen Konflik dalam Gereja Menurut Hugh F. Halverstadt)
Authors: Akatastasia Makienggung, Merliza
Issue Date: 2012
Publisher: Program Studi Teologi FTEO-UKSW
Abstract: Hakekat gereja sebagai umat Allah tidak menjadikan gereja secara otomatis terhindar dari konfllik. Perlu disadari bahwa gereja terdiri dari kumpulan manusia yang masih terikat dengan jiwa kemanusiaannya dan terdiri dari berbagai karakter serta budaya yang berbeda. Keberagaman ini sering bergesek satu sama lain dan akhirnya menciptakan konflik. Tentu saja, konflik bukanlah hal yang baru bagi gereja. Catatan-catatan perjalanan perkembangan gereja menunjukkan bagaimana gereja sering terlibat konflik, baik itu yang bersifat interen maupun ekstern. Konflik-konflik ini yang kemudian memberikan warna yang berbeda bagi gereja-gereja masa sekarang. Tidak jarang sikap, paradigma bahkan teologi yang dianut oleh gereja dipengaruhi oleh konfik yang pernah mereka alami.Melihat besarnya pengaruh konflik dalam kehidupan gereja, maka sudah seharusnya warga gereja mulai memperhatikan pentingnya keterampilan manajemen konflik dalam gereja. Di Indonesia, animo warga gereja terhadap pembinaan manajemen gereja sangat sedikit. Hal ini disebabkan pikiran tradisional yang sduah melekat dalam pribadi gereja Indonesia tentang peranan pejabat gerejawi dalam manajemen konflik gereja. Konflik dalam gereja hanya menjadi tanggungjawab para pejabat gerejawi saja. Gereja lupa akan jati dirinya sebagai sebuah persekutuan yang berfungsi untuk saling menjaga dan menguatkan. Keutuhan persekutuan adalah tanggungjawab seluruh warga gereja. Gereja sering merasa cepat puas dengan keadaannya yang sekarang, tidak mau dikoreksi dan tidak ingin berubah saat menemukan kesalahan dalam dirinya, takut menghadapi konflik dan lebih memilih sikap cari aman dengan cara menghindari konflik dan sekali lagi melimpahkan tanggungjawab pengelolaan konflik pada pejabat gerejawi. Halverstadt menawarkan sebuah model manajemen konflik yang ditujukan kepada seluruh warga jemaat. Proses penerapannya menggunakan sistem pelatihan yang berulang-ulang dan membutuhkan kesabaran. Fokus Halverstadt terhadap pelatihan warga gereja sebagai pengelola konflik merupakan keistimewaan dari model yang ditawarkannya. Gereja yang mau belajar adalah kalimat yang mewakili model Halverstadt tersebut. Dalam disiplin ekklesiologi, terdapat beberapa model gereja yang sedang dikembangkan, salah satunya adalah model gereja sebagai persekutuan murid-murid. Nama model ini terinspirasi dari cara hidup murid-murid Yesus, baik ketika Yesus masih bersama mereka secara fisik maupun sesudah Yesus terangkat ke surga. Fokus dari Halverstadt secara sekilas nampak memiliki relasi dengan model gereja sebagai persekutuan murid-murid. Oleh sebab itu, untuk mengetahui kebenarannya, maka perlu dilakukan tinjauan ekklesiologis terhadap model Halverstadt dengan menggunakan perspektif model gereja sebagai persekutuan murid-murid.
URI: http://repository.uksw.edu/handle/123456789/2860
Appears in Collections:T1 - Theology

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
T1_712007007_Judul.pdfHalaman Judul3.8 MBAdobe PDFView/Open
T1_712007007_BAB I.pdfBAB I308.18 kBAdobe PDFView/Open
T1_712007007_BAB II.pdfBAB II588.57 kBAdobe PDFView/Open
T1_712007007_BAB III.pdfBAB III1.58 MBAdobe PDFView/Open
T1_712007007_BAB IV.pdfBAB IV480.18 kBAdobe PDFView/Open
T1_712007007_BAB V.pdfBAB V79.04 kBAdobe PDFView/Open
T1_712007007_Daftar Pustaka.pdfDaftar Pustaka236.13 kBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.