DSpace logo

Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uksw.edu/handle/123456789/2873
Title: Kaus Nono (Suatu Tinjauan Sosio-Teologis tentang Makna Marga dalam Ritus Kaus Nono di Timor Tengah Selatan)
Authors: Titaley, John A.
Nuban Timo, Eben.
Erlin Naisanu, Esu
Keywords: Budaya;Marga;Kaus Nono
Issue Date: 2012
Publisher: Program Studi Teologi FTEO-UKSW
Abstract: Di dalam perkawinan meto, ritus Kaus Nono merupakan suatu hal yang wajib untuk dilakukan. Kaus Nono sendiri dipahami secara umum oleh orang meto sebagai suatu ritus penurun marga. Orang meto yang menganut budaya patriakhal mengharuskan perempuan meto menggunakan nama marga suami. Oleh karena itu, Kaus Nono di dalam perkawinan meto ditetapkan menjadi suatu keharusan agar perempuan dapat menggunakan nama marga suami sebagai identitas diri baik secara hukum adat maupun pemerintah. Dari latar belakang ini, penulis mengambil judul ‘Kaus Nono' dengan pokok permasalahan tentang pentingnya nama marga sehingga pemberian identitas bagi perempuan meto dalam Kaus Nono menjadi suatu kewajiban yang harus dijalankan. Dalam rangka menjawab pokok permasalahan tersebut, maka penulis melakukan suatu penelitian dengan pendekatan kualitatif di Niki-Niki Kabupaten Timor Tengah Selatan. Penelitian dilakukan dengan metode mewawancarai beberapa tokoh masyarakat serta tokoh adat yang memahami tentang pelaksanaan ritus Kaus Nono. Teori yang digunakan untuk mendukung penelitian ini adalah teori klen. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, ditemukan bahwa keberadaan suatu nama marga dengan berbagai peri kehidupan yang ada di dalamnya diyakini orang meto dibawa oleh para leluhur terdahulu. Nama marga dipahami orang meto dengan istilah nono. Setiap nono memiliki aturan dan nilai kehidupan yang berbeda satu dengan yang lainnya. Pemahaman orang meto terhadap kedudukan laki-laki sebagai pemberi kehidupan mengharuskan perempuan untuk masuk dan beradaptasi dengan nilai dan aturan hidup dari klen laki-laki yang menjadi suaminya. Kaus Nono hadir sebagai pemberi identitas bagi perempuan meto untuk dapat menyatu dengan klen suami baik secara jasmani maupun spiritual. Perempuan meto hanya bisa melepaskan nilai-nilai leluhur aslinya dan menjalani nilai-nilai leluhur nono suami jika ia telah melaksanakan ritus Kaus Nono dalam perkawinan. Menurut kepercayaan orang meto, kesejahateraan rumah tangga bergantung pada pelaksanaan Kaus Nono itu sendiri. Kaus Nono dianggap sebagai sesuatu yang sakral dalam kehidupan orang meto. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa, keberadaan suatu nama marga atau klen sangat dihargai dan dihormati keberadaannya karena, nama marga atau nono itu berasal dari para leluhur. Masyarakat meto masih sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Bagi mereka, budayalah yang membentuk pribadi dan karakter mereka sebagai kesatuan masyarakat adat. Kaus Nono menyatukan pribadi manusia dengan para leluhur sebagai pemberi berkat. Akan tetapi iman Kristen memandang kesatuan dengan Kristus sajalah yang meneguhkan keberadaan manusia dengan identitas baru sebagai keluarga Kerajaan Allah yang berhak menerima keselamatan kekal.
URI: http://repository.uksw.edu/handle/123456789/2873
Appears in Collections:T1 - Theology

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
TI_712008033_Judul.pdfHalaman Judul1.95 MBAdobe PDFView/Open
TI_712008033_BAB I.pdfBAB I222.16 kBAdobe PDFView/Open
TI_712008033_BAB II.pdfBAB II481.78 kBAdobe PDFView/Open
TI_712008033_BAB III.pdfBAB III1.19 MBAdobe PDFView/Open
TI_712008033_BAB IV.pdfBAB IV250.63 kBAdobe PDFView/Open
TI_712008033_BAB V.pdfBAB V146.6 kBAdobe PDFView/Open
TI_712008033_Daftar Pustaka.pdfDaftar Pustaka110.87 kBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.