DSpace logo

Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uksw.edu/handle/123456789/4005
Title: Hole (“Suatu Tinjauan Sosio-Antrpologi Terhadap Makna Hole dalam Kekristenan Jemaat Gmit Ebenheazer-Lederabba Sabu Mesara”)
Authors: Yolanda Helly, Ella
Issue Date: 2013
Publisher: Program Studi Teologi FTEO-UKSW
Abstract: Belajar dari budaya masyarakat Sabu adalah penting dan perlu sekali. Sebab dari hal tersebut kita dapat mengenal akan identitas, kepribadian, sikap mental, kehidupan ekonomi, dan peradaban orang Sabu yang diwujudkan dalam adat-istiadat mereka. Pada hakekatnya adat istiadat tidak terlepas dari kehidupan sosial masyarakat Sabu. Oleh kerena itulah istiadat harus tetap dipertahankan sebagai jati diri yang perlu selalu dijaga dan dilestarikan. Hole salah satu ritual budaya yang masih dilaksanankan oleh sebagian besar masyarakat Sabu yang bersumber dari agama suku Sabu. Upacara adat hole adalah pemberian persembahan hasil panen masyarakat sebagai ungkapan syukur kepada “tuhan” yang mereka sembah dengan sapaan Deo Ama dan wujud bakti terhadap jasa para leluhur yang telah memberikan kehidupan bagi mereka. Pengekspresian dari ungkapan syukur masyarakat tersebut juga merupakan suatu keharusan karena itu merupakan saranan untuk membersikan, menyucikan serta menjauhkan pulau Sabu dari malapetaka agar hasil panen lebih baik dari tahun kemarin. Upacara hole bukan saja diikuti oleh Orang- orang yang beragama asli Sabu tetapi juga oleh masyarakat yang beragama Kisten. Agama Kristen merupakan salah satu agama yang sangat berkembang pesat di Pulau Sabu. Jemaat GMIT Ebenhaeser-Lederabba Mesara adalah salah satu gereja yang sebagian besar jemaatnya masih menjalankan ritual Hole. Upacara adat ini masih terus dipertahankan atas dasar pemahanam orang Kristen Sabu terkhususnya jemaat Ebenhaeser-Lederabba bahwa hole merupakan bagian dari budaya yang adalah identitas diri, ciri khas dan tradisi yang diwariskan oleh leluhur mereka secara turun temurun bagi anak-cucunya. Berdasarkan hal yang telah dipaparkan diatas timbulah pertanyaan bagi penulis apa makna hole dalam budaya Sabu? Dan mengapa budaya hole masih dilaksanakan oleh jemaat di gereja GMIT Ebenhaeser-Lederabba Mesara? Dalam rangka mencari jawaban atas pertanyaan tersebut, maka dilakukanlah suatu penelitian kualitatif di Mesara, kabupaten sabu khususnya dalam wilayah pelayanan GMIT Ebenhaeser-Lederabba Mesara. Adapun teori yang digunakan penulis dalam menganalisis hasil penelitian guna menemukan suatu jalan keluar bagi persoalan yang ada ialah teori mengenai persembahan, menurut beberapa ahli sosial dan antropologi seperti, Tylor, Victor Turner, Jeferey Cartes, Marcel Mauss, A.M Tambunan. Adapun hasil penelitian yang telah diperoleh, penulis menemukan Gereja, dalam hal ini jemaat GMIT Ebenhaeser-Lederabba Mesara menganggap tradisi ini sebagai tradisi turun temurun yang perlu dijaga dan dihormati tanpa mengurangi iman dan percaya mereka kepada Allah yang merupakan sumber berkat dalam kehidupan mereka. Bagi mereka hole memiliki unsur positif oleh sebab itulah sikap dari jemaat pada umunya menerima dengan bangga adat dan budaya ini sebagai tradisi yang perlu dipertahankan dan dilestarikan. Hole merupakan budaya lokal yang mengandung nilai-nilai sosial yang sangat erat dengan kehidupan masyarakat Sabu yang mempererat tali persaudaraan dan persatuan serta mendukung berita Injil dimana sangat menghargai alam, menjunjung tinggi relasi antar sesama manusia dan juga bagaimana membangun relasi dengan “tuhan” yang mereka sapa sebagai yang Sakra, Suci, dan kudus. Gereja GMIT Ebenhaeser-Lederabba Mesara yang hidup, tumbuh dan berkembang, di tengah-tengah kebudayaan daerah Sabu, merupakan sarana dalam peningkatan kehidupan Kristen yang memiliki tangung jawab akan kehidupan rohani warga jemaatnya. Hal ini menjadi perhatian tersendiri bagi gereja untuk menyikapi, mengkaji sejauh mana adat paralel dengan ajaran agama Kristen dapat dimanfaatkan untuk peningkatan kehidupan Kristen. Ritual hole merupakan sebuah simbol dari budaya yang merupakan jati diri atau identitas masyarakat Sabu yang perlu dipertahankan oleh karena kehidupan keagamaan bukanlah bagian terpisah dari kehidupan masyarakat, melainkan bagian dari budaya yang hidup saling berdampingan.
URI: http://repository.uksw.edu/handle/123456789/4005
Appears in Collections:T1 - Theology

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
T1_712006043_Judul.pdfHalaman Judul2.53 MBAdobe PDFView/Open
T1_712006043_BAB I.pdfBAB I357.98 kBAdobe PDFView/Open
T1_712006043_BAB II.pdfBAB II710.19 kBAdobe PDFView/Open
T1_712006043_BAB III.pdfBAB III931.21 kBAdobe PDFView/Open
T1_712006043_BAB IV.pdfBAB IV587.62 kBAdobe PDFView/Open
T1_712006043_BAB V.pdfBAB V142.2 kBAdobe PDFView/Open
T1_712006043_Daftar Pustaka.pdfDaftar Pustaka132.62 kBAdobe PDFView/Open
T1_712006043_Lampiran.pdfLampiran237.12 kBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.