DSpace logo

Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uksw.edu/handle/123456789/4022
Title: Stratifikasi Sosial Dalam Gereja, ”Suatu kajian sosio-historis terhadap kedudukan dan peran Raja di jemaat GPM Aboru, Maluku Tengah dalam perspektif Ketetapan Sinode GPM Nomor 08/SND/KE-36/2010”
Authors: Tuasuun, Josina
Issue Date: 2013
Publisher: Program Studi Teologi FTEO-UKSW
Abstract: Stratifikasi sosial merupakan suatu fenomena sosial yang bersifat universal dan tidak dapat dilepaspisahkan dari kehidupan manusia. Stratifikasi sosial akan terjadi selama di dalam kehidupan masyarakat ada sesuatu yang dihargai. Dan oleh karena itulah dalam masyarakat akan selalu ditemui lapisan-lapisan atau kelas sosial secara hirarkis. Ada ukuran atau kriteria yang secara umum dijadikan sebagai dasar dalam menentukan status seseorang di dalam masyarakat yakni, ukuran kekayaan, kekuasaan, kehormatan dan ilmu pengetahuan. Ukuran atau kriteria itulah yang menyebabkan adanya prestise terhadap seseorang di dalam masyarakat. Sungguh menarik bahwa fenomena stratifikasi sosial ini pun sangat nampak dalam kehidupan gereja. Hal ini terlihat dengan diberikannya kursi khusus bagi Raja di dalam gereja. Jika ditinjau dari aspek historis, keberadaan kursi raja di dalam jemaat GPM Aboru dipengaruhi oleh 2 faktor yakni: kolonisasi Belanda dan pola kepemimpinan tradisional. Kedua faktor tersebut merupakan tradisi yang telah mendarah daging dalam kehidupan bermasyarakat dan beregereja di Maluku. Dan oleh karena itu, dalam ketetapan sinode GPM Nomor 08/SND/KE-36/2010 kedudukan dan peran raja diatur namun hanya sebatas pada fungsi liturgis saja dan bukan pada kekuasaan absolut. Hubungan antara Raja dan pendeta didasarkan pada hubungan kemitraan khususnya dalam membangun kerjasama guna meningkatkan kesejahteraan, keadilan, dan kemakmuran di dalam masyarakat. Kursi raja di dalam gereja dimaknai sebagai sebuah simbolisasi kepemimpinan Kristen, sekaligus sebuah gambaran hubungan kerejasama serta sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan. Masyarakat menilai hal tersebut sebagai sebuah hal yang wajar, karena sebagai seorang pemimpin di dalam masyarakat tradisional raja memiliki kedudukan yang lebih tinggi dan oleh karena itu mereka harus menunjukan keharusan melaksanakan peran untuk patuh kepada pemimpinnya. Baik pendeta maupun jemaat memiliki anggapan yang sama tentang keberadaan kursi raja di dalam gereja yakni sebagai sebuah peninggalan sejarah.bila dikaitkan dengan teori-teori yang ada sadar ataupun tidak disadari hal tersebut merupakan sebuah bentuk stratifikasi di dalam gereja. Pemahaman ini hendaknya perlu dikritisi dengan baik agar jemaat/gereja tidak terjebak dalam pemahaman yang keliru.
URI: http://repository.uksw.edu/handle/123456789/4022
Appears in Collections:T1 - Theology

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
T1_712008058_Judul.pdfHalaman Judul1.92 MBAdobe PDFView/Open
T1_712008058_BAB I.pdfBAB I667.28 kBAdobe PDFView/Open
T1_712008058_BAB II.pdfBAB II718.21 kBAdobe PDFView/Open
T1_712008058_BAB III.pdfBAB III806.03 kBAdobe PDFView/Open
T1_712008058_BAB IV.pdfBAB IV679.46 kBAdobe PDFView/Open
T1_712008058_BAB V.pdfBAB V224.17 kBAdobe PDFView/Open
T1_712008058_Daftar Pustaka.pdfDaftar Pustaka316.26 kBAdobe PDFView/Open
T1_712008058_Lampiran.pdfLampiran11.03 MBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.