DSpace logo

Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uksw.edu/handle/123456789/4052
Title: NAETAPAN BATU KERAMAT (Studi Tentang Pengkeramatan Batu Naetapan dan Dampaknya Bagi Masyarakat Desa Tunua, Kabupaten Timor Tengah Selatan)
Authors: Kause, Olifianus
Issue Date: 2013
Publisher: Magister Sosiologi Agama Program Pascasarjana FTEO-UKSW
Abstract: Gunung batu sebagai salah satu fenomena geografi di Timor oleh masyarakat Atoni memiliki nilai mistik-magis yang harus dihormati. Bila tidak maka akan mendatangkan musibah atau bencana yang dipahaminya sebagai hukuman. Tradisi ini dipertegas dalam filosofi orang Atoni tentang alam. Bumi diidentifikasikan sesuai dengan struktur fital tubuh manusia. Yang mana batu ( fatu ) dipandangnya sebagai tulang yang member kekuatan. Di desa Tunua terdapat batu Naetapan yang dikeramatkan oleh masyarakat sejak nenek moyang sebagai warisan sosial masyarakat. Fenomena ini memperlihatkan bahwa prilaku keagamaan dan tatanan sosial masyarakat telah lama ada. Karena masyarakat telah memiliki kearifan lokal dalam memposisikan antara yang sakral dan mana yang profan. Durkheim tegaskan bahwa fakta sosial dan struktur kepercayaan masyarakat telah dimiliki. Fakta sosial yang Durkheim maksudkan di sini adalah struktur dan sistim sosial, norma budaya, dan sistem nilai masyarakat telah dimiliki dan dapat berlaku pada diri inidividu sebagai sebuah paksaan eksternal; dan pada saat yang sama keberadaannya terlepas dari manifestasi-manifestasi individu. Masyarakat Tunua mengkeramatkan batu Naetapan untuk mengekspresikan rasa hormat dan cinta kepada roh-roh leluhur yang melindungi dan memberi pertolongan. Oleh karena dianggap sebagai tempat bertahtanya roh-roh para leluhur. Pertolongan dapat dirasakan secara nyata dalam perlindungan dan rasa nyaman yang diberikan roh-roh leluhur melalui peran Meo dalam ritual Meo Pa'e saat hendak menuju ke medan perang. Orang Tunua menjadikan Naetapan sebagai benteng pertahanan yang memberi kekuatan, keberanian dan keperkasaan pada saat perang melawan musuh. Dalam fungsinya sebagai pemberi hidup, Ana'a Tobe dapat memainkan perannya secara efektif untuk menjadi perantara dan tali penghubung bagi masyarakat dengan Uis pah dalam proses perizinan untuk pengolahan hutan, tanah dan hasil alam lainnya. Mereka harus meminta persetujuan Uis Pah yang bertahta di Naetapan untuk berbagai kepentingan melalui ritual-ritual dan upacara-upacara seperti; ritual Meo Besi atau Meo Pa'e, ritual Ana'a Tobe dan ritual Pensuf Mu'it. Orang Tunua hidup dan mengenal ritus-ritus sebagai cara mereka mengekspresikan rasa hormat dan ketaatan mereka kepada roh-roh leluhur. Jadi orang Tunua tidak menyembah kepada batu Naetapan melainkan mereka menjadikannya sebagai tempat bertemu dengan kuasa-kuasa yang kepadanya mereka dapat menggantungkan harapan.
URI: http://repository.uksw.edu/handle/123456789/4052
Appears in Collections:T2 - Master of Religion Sociology

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
T2_752012011_Judul.pdfHalaman Judul1.54 MBAdobe PDFView/Open
T2_752012011_BAB I.pdfBab I1.1 MBAdobe PDFView/Open
T2_752012011_BAB II.pdfBab II1.52 MBAdobe PDFView/Open
T2_752012011_BAB III.pdfBab III2.27 MBAdobe PDFView/Open
T2_752012011_BAB IV.pdfBab IV1.44 MBAdobe PDFView/Open
T2_752012011_BAB V.pdfBab V447.84 kBAdobe PDFView/Open
T2_752012011_Daftar Pustaka.pdfDaftar Pustaka329.24 kBAdobe PDFView/Open
T2_752012011_Lampiran.pdfLampiran147.19 kBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.