DSpace logo

Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uksw.edu/handle/123456789/4054
Title: Perilaku Remaja Anak Kandung dan Anak Angkat dalam Keluarga di Kecamatan Teluk Mutiara-Alor (Suatu Kajian Dari Perspektif Erik Erikson)
Authors: Mowata, Sipora O.
Issue Date: 2013
Publisher: Magister Sosiologi Agama Program Pascasarjana FTEO-UKSW
Abstract: Keluarga dalam hubungannya dengan anak di identikan sebagai tempat atau lembaga pengasuhan yang dapat memberikan kasih sayang secara efektif dan ekonomis. Di dalam keluargalah kali pertama anak-anak mendapatkan pengalaman dini secara langsung yang akan di gunakan sebagai bekal hidupnya di kemudian hari melalui latihan fisik, sosial, mental, emosional dan spritual. Oleh karena itu, anak di kondisikan sangat bergantung kepada orang-orang yang berada di sekitarnya yaitu orang tua dan anggota keluarga yang lain serta lingkungan yang lebih luas (lingkungan masyarakat). Dalam keluarga, mengasuh, membesarkan, dan mendidik anak merupakan satu tugas mulia yang tidak lepas dari berbagai halangan dan tantangan. Keluarga juga merupakan salah satu sistem yang terdiri atas element-element yang saling terkait antara satu dengan yang lainnya dan memiliki hubungan yang kuat. Oleh karena itu, untuk mewujudkan satu fungsi tertentu bukan yang bersifat alami saja melainkan juga adanya berbagai faktor atau kekuatan yang ada di sekitar keluarga, seperti nilai-nilai norma, dan perilaku serta faktor-faktor lain yang ada di masyarakat. Perilaku dalam sebuah keluarga yang sering terjadi pada masa remaja baik secara kognitif, afektif dan secara konatif. Sering muncul prasangka buruk, atau pikiran negative terhadap banyak hal yang ada dalam hidup dan bisa mengarah pada hubungan sosial yang buruk pula. Pemikiran yang irasional (tidak rasional) merupakan salah satu tanda kurang sehatnya kondisi psikososial seseorang remaja. Menurut Erikson dalam teori tentang psikososial menekankan bahwa perkembangan merupakan hasil interaksi timbal balik antara kekuatan individu dan kekuatan konteks sosial, khususnya nilai-nilai orang tua dan masyarakat. Menurut Erikson, setiap krisis psikososial mengekspresikan suatu konflik antara dua kondisi psikologis yang berlawanan yang tak dapat di hindari dan harus di pecahkan oleh setiap individu. Permasalahan perilaku yang terjadi antara remaja anak kandung dan anak angkat, perlu mendapat perhatian khusus dari pihak keluarga yang menjadi pihak utama dalam menangani perilaku kehidupan remaja. Dengan melihat akan beberapa aspek antara lain aspek kognitif : ini membahas mengenai perkembangan kognitif remaja, bagaimana remaja berpikir, serta memahami dunia sekitarnya yang masih bersifat egosentris. Aspek afektif: membahas emosi yang sering berubah-ubah. Keterbatasan secara kognitif mengolah perubahan-perubahan baru tersebut bisa membawa perubahan besar dalam emosinya. Aspek konatif: perilaku remaja yang masih tergolong sangat rentang dengan penyimpangan. Perilaku antara anak kandung dan anak angkat, seperti pada aspek kognitif, afektif dan konatif, sangat terlihat dengan jelas seperti yang di alami pada remaja anak kandung dan anak angkat dalam keluarga di Teluk Mutiara-Alor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku remaja anak kandung dan anak angkat dalam keluarga di Kecamatan Teluk Mutiara-Alor. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan mengambil subyek penelitian yaitu remaja anak kandung dan anak angkat berusia 12-16 tahun, dan orang tua. Populasi 10 orang, yang di ambil sebanyak 5 keluarga yang di dalamnya terdapat 5 remaja anak kandung dan 5 remaja anak angkat. Dari hasil analisi data, dapat di ketahui bahwa perilaku antara remaja anak kandung dan anak angkat terlihat lebih kuat pada aspek kognitif. Misalnya: Sarah (AK), Deci (AK), Nona (AA), dan Ratna (AA), di sebabkan karena mereka sudah mampu berfikir lebih dewasa, dapat mengambil keputusan dan memahami kondisi yang terjadi di sekitar mereka. Hal ini, juga di dukung oleh perhatian orang tua terhadap keputusan-keputusan yang di buat dalam keluarga. Sedangkan pada aspek kognitif yang terlihat lemah terjadi pada: Nina (AA), Bobi (AK), Dedi (AA), Feby (AK), Wati (AK), dan Ina (AA). Mereka, baik anak kandung atau anak angkat sama-sama memperlihatkan perilaku egois, tidak mau mengalah atau mendengarkan dan belum bisa mengambil keputusan sendiri. Hal ini di sebabkan karena pada umumnya sifat berfikir mereka belum mencapai kematangan. Jadi, dalam menilai benar atau salah terhadap sekitarnya masih di sesuaikan dengan pemikiran mereka sendiri. Sedangkan pada aspek afektif dan konatif mereka, masih terbilang lemah dengan mengikuti suasana yang mereka dapat dari dalam keluarga maupun dari luar tempat mereka berkumpul. Sehingga perilaku mereka juga sering tergolong rawan. Mereka masing-masing mementingkan kepuasan diri sendiri dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk berkumpul dengan teman-teman seusia mereka. Peran orang tua dalam melihat perilaku remaja anak kandung dan anak angkat belum sepenuhnya menerapkan sikap tegas dalam mendisiplinkan perilaku remaja mereka. Sehingga remaja dapat dengan sendirinya melakukan perilaku yang kurang patut kepada orang tua. Hal ini terkadang yang menjadi stres tersendiri bagi orang tua. Oleh karenanya, butuh tenaga dan kesabaran ekstra untuk benar-benar mempersiapkan remaja kelak menghadapi masa dewasanya.
URI: http://repository.uksw.edu/handle/123456789/4054
Appears in Collections:T2 - Master of Religion Sociology

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
T2_752008037_Judul.pdfHalaman Judul1.26 MBAdobe PDFView/Open
T2_752008037_BAB I.pdfBab I907.24 kBAdobe PDFView/Open
T2_752008037_BAB II.pdfBab II701.51 kBAdobe PDFView/Open
T2_752008037_BAB III.pdfBab III1.01 MBAdobe PDFView/Open
T2_752008037_BAB IV.pdfBab IV497.6 kBAdobe PDFView/Open
T2_752008037_BAB V.pdfBab V183.78 kBAdobe PDFView/Open
T2_752008037_Daftar Pustaka.pdfDaftar Pustaka256.63 kBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.