DSpace logo

Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uksw.edu/handle/123456789/4066
Title: TABOB (Kajian Sosio Antropologis Terhadap Pemahaman Masyarakat Nufit Haroa Tentang Tabob)
Authors: Noveline Anmama, Fransiska
Keywords: Tabob;Nufit Haroa (Tuun En Fit);makanan pusaka;moyang/leluhur;totem
Issue Date: 2013
Publisher: Magister Sosiologi Agama Program Pascasarjana FTEO-UKSW
Abstract: Tabob atau yang dikenal dengan penyu belimbing adalah hewan yang mendapat perlakukan khusus dan memiliki hubungan dengan masyarakat Nufit Haroa yaitu Tuun En Fit yang terdiri dari ohoi Madwaer, Somlain, Ohoiren, Ohoira, Ur, Tanimbar Kei dan Warbal; di Kecamatan Kei Kecil Barat, Kabupaten Maluku Tenggara. Ketujuh ohoi inilah yang memiliki hak untuk mencari dan mengkonsumsi daging hewan tersebut setiap musim yaitu bulan September-Desember. Hak istimewa ini diperoleh berdasarkan kepercayaan dan keyakinan mereka terhadap cerita legenda yang menceritakan asal mula tabob dibawa oleh dua orang yang bernama Tobi dan Tobai sebagai imbalan atas kemenangan mereka ketika berperang dengan Raja di Papua. Dari sinilah leluhur/moyang mereka menjadikan hewan ini sebagai makanan dan memberi nama/gelar Ub (dari kata Ubnus yang artinya moyang/leluhur) kepadanya. Bagi kita sekarang hal seperti ini sangat tidak rasional apalagi dalam berbagai perkembangan dan kemajuan yang ada. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pemahaman masyarakat Nufit Haroa (Tuun En Fit) tentang tabob serta perilaku yang menunjukkan pemahaman tersebut. Penelitian ini hanya difokuskan di dua ohoi yaitu Ohoiren dan Madwaer. Alasan dipilihnya dua tempat ini karena Madwaer merupakan pusat raschap dan keberadaan bukti-bukti mitos tabob sedangkan di Ohoiren terdapat siran atau tempat pertemuan adat masyarakat Nufit. Pengamatan juga dilakukan di tiga ohoi lainnya yaitu Ohoira, Madwaer dan Ur.Untuk menjawab berbagai hal tersebut, dilakukan teknik wawancara dengan beberapa informan seperti Raja Mantilur, tokoh adat, tokoh masyarakat, Badan Saniri, perangkat ohoi, dan beberapa anggota masyarakat terutama yang bertugas untuk mencari dan menikam tabob, juga dilakukan obervasi/pengamatan. Penelitian tidak dapat dilakukan di Warbal dan Tanimbar Kei karena kondisi alam yang tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan ke daerah tersebut. Tabob dalam masyarakat Nufit Haroa ternyata merupakan hewan milik bersama yang disakralkan dan merupakan makanan pusaka yang terus di cari dan dimakan setiap musim, dengan kewajiban menjalankan berbagai aturan dan syarat-syarat serta larangan-larangan dalam menjalankan tradisi tersebut. Jika tidak dipatuhi dan dilakukan, tabob akan sulit ditemukan. Oleh karena itu harus dilakukan ritual penebusan/pemulihan yang ditujukan kepada leluhur/moyang untuk memohon maaf atas kesalahan yang dilakukan. Tabob juga dianggap sama dengan moyang/leluhur karena itu mereka sangat menghormati dan menghargainya yang ditunjukkan melalui pelaksanaan syarat-syarat dan aturan yang ditetapkan, serta tidak mengeluarkan kata-kata secara sembarangan tentangnya. Tabob di dalam masyarakat ini ternyata merupakan totem, dan salah satu alasan pertama adalah karena kepercayaan asli mereka adalah Totemisme.
URI: http://repository.uksw.edu/handle/123456789/4066
Appears in Collections:T2 - Master of Religion Sociology

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
T2_752011007_Judul.pdfHalaman Judul2.06 MBAdobe PDFView/Open
T2_752011007_BAB I.pdfBab I680.57 kBAdobe PDFView/Open
T2_752011007_BAB II.pdfBab II1.44 MBAdobe PDFView/Open
T2_752011007_BAB III.pdfBab III3.31 MBAdobe PDFView/Open
T2_752011007_BAB IV.pdfBab IV628.2 kBAdobe PDFView/Open
T2_752011007_BAB V.pdfBab V304.82 kBAdobe PDFView/Open
T2_752011007_Daftar Pustaka.pdfDaftar Pustaka261.58 kBAdobe PDFView/Open
T2_752011007_Lampiran.pdfLampiran4.66 MBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.