DSpace logo

Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uksw.edu/handle/123456789/4085
Title: Sistem Kekerabatan Sosial Masyarakat Desa Aimoli – Alor dalam Relasi Islam dan Kristen
Authors: Piether Pulinggomang, Alexander
Keywords: Bela;sota tofang sahi fani tofang sahi;tarian lego-lego;solidaritas sosial;Aimoli – Alor
Issue Date: 2013
Publisher: Magister Sosiologi Agama Program Pascasarjana FTEO-UKSW
Abstract: Kehidupan manusia sangat rentan terhadap konflik, sehingga ikatan kekerabatan yang mengikat suatu masyarakat dalam hubungan persaudaraan mulai terkikis. Konflik dengan isu agama adalah konflik yang marak terjadi di Indonesia. Dalam sejarah kehidupan umat beragama, sering terjadi bahwa perbedaan keagamaan dan keimanan dijadikan sebagai pemicu atau alasan pertentangan dan perpecahan. Di tengah keraguan terhadap hubungan antar umat beragama di Indonesia, hubungan antar salang (Islam) dan sarani (Kristen) di desa Aimoli, Kabupaten Alor, mampu mengikis keraguan tersebut. Bagi masyarakat di desa Aimoli, berbeda agama tidak lantas membuat hubungan persaudaraan antar anggota masyarakat satu dengan yang lain menjadi rusak. Bertolak dari kenyataan di atas, maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang mendukung terciptanya kerukunan beragama antara Islam dan Kristen di desa Aimoli. Untuk mencapai tujuan yang diharapkan maka digunakan jenis penelitian deskriptif, dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara studi kepustakaan dan studi lapangan. Kerukunan beragama antar salang (Islam) dan sarani (Kristen) yang terjadi di desa Aimoli, karena ada ikatan solidaritas sosial yang kuat, yang menyatu dengan sistem nilai dan mengatur hubungan kekerabatan antar anggota masyarakat di desa ini. Bela (sumpah darah), sota tofang sahi fani tofang sahi (pepatah/sumpah adat) dan tarian lego-lego adalah sistem kekerabatan yang mengatur hubungan antar masyarakat di desa ini terjalin dengan baik dan harmonis walaupun terbingkai dalam perbedaan. Ketiga hal inilah yang mampu menjaga hubungan persaudaraan antara salang (Islam) dan sarani (Kristen). Penulis mencoba menganalisis fakta di atas dengan menggunakan teori fakta sosial, solidaritas sosial, kesadaran kolektif dan integrasi sosial. Setelah mendeskripsikan dan menganalisis data, maka dapat diketahui bahwa dalam perspektif Durkheim, bela (sumpah darah), sota tofang sahi fani tofang sahi (pepatah/sumpah adat) dan tarian lego-lego merupakan sebuah fakta sosial. Ikatan tersebut pun dimaknai sebagai warisan leluhur (nenek moyang) yang merupakan hasil kesepakatan bersama, sehingga memiliki kekuatan dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi. Dan dalam proses reintegrasi, bela (sumpah darah), sota tofang sahi fani tofang sahi (pepatah/sumpah adat) dan tarian lego-lego berperan sebagai etika kehidupan bersama serta kekuatan pemersatu. Ikatan ini tidak hanya berhubungan dengan sejumlah ritual, tetapi juga menjelma dalam tindakan sosial. Dengan demikian, dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa bela (sumpah darah), sota tofang sahi fani tofang sahi (pepatah/sumpah adat) dan tarian lego-lego memainkan peranan yang penting dalam menjaga kehidupan bersama di desa Aimoli - Alor. Ketiga warisan adat tersebut tidak hanya untuk menyatukan tetapi juga memberi nilai-nilai kemanusiaan yang mampu menjadi landasan dalam membangun masyarakat.
URI: http://repository.uksw.edu/handle/123456789/4085
Appears in Collections:T2 - Master of Religion Sociology

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
T2_752011024_Judul.pdfHalaman Judul809.31 kBAdobe PDFView/Open
T2_752011024_BAB I.pdfBab I262.75 kBAdobe PDFView/Open
T2_752011024_BAB II.pdfBab II569.04 kBAdobe PDFView/Open
T2_752011024_BAB III.pdfBab III812.43 kBAdobe PDFView/Open
T2_752011024_BAB IV.pdfBab IV542.44 kBAdobe PDFView/Open
T2_752011024_BAB V.pdfBab V135.66 kBAdobe PDFView/Open
T2_752011024_Daftar Pustaka.pdfDaftar Pustaka104.68 kBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.