DSpace logo

Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uksw.edu/handle/123456789/4090
Title: Rambu Solo' Sebagai Tindakan Pastoral
Authors: Retnowati
Wiryasaputra, Totok S.
Timbang, Yekhonya F.T.
Keywords: Aluk Todolo;kematian;rambu solo;tindakan pastoral
Issue Date: 2013
Publisher: Magister Sosiologi Agama Program Pascasarjana FTEO-UKSW
Abstract: Sampai sejauh ini rambu solo' hanya dipahami sebagai tradisi upacara pemakaman dalam Aluk Todolo yang di kemudian hari juga diwarisi oleh jemaat Kristen di Toraja untuk mengupacarakan warga jemaatnya yang meninggal. Oleh karena beberapa sebab, pelaksanaan tradisi rambu solo' di dalam jemaat Kristen telah mengalami pergeseran. Beberapa ritus penting dalam rambu solo' Aluk Todolo dihilangkan tanpa ada ritus pengganti yang dipersiapkan oleh gereja.Kesakralan upacara pemakaman telah tergantikan dengan kemeriahan “pesta orang mati”. Sebagai akibatnya, tradisi rambu solo' Kristen menjadi kehilangan makna dan tujuan sebagai wadah solidaritas kelompok yang mendampingi anggota keluarganya yang sedang berduka karena peristiwa kematian. Rambu solo' adalah “perangkat” dan “kebijakan budaya” leluhur orang Toraja (Aluk Todolo) untuk membantu dan mendampingi warganya dalam menghadapi krisis karena peristiwa kematian. Perangkat dan kebijaksanaan budaya inilah yang dapat dipakai oleh gereja di Toraja dalam melaksanakan tugas pastoralnya sehubungan dengan dukacita yang dialami oleh warga jemaat. Untuk menggali lebih dalam aspek pastoral yang terdapat dalam rambu solo', maka penulis mengadakan penelitian pada pelaksanaan rambu solo' Aluk Todolo di Sarang Dena' Simbuang Tana Toraja. Penelitian menemukan bahwa rambu solo' tidaklah sekadar upacara pemakaman tetapi dapat juga dipakai sebagai tindakan pastoral yang dilakukan oleh masyarakat kepada anggotanya yang mengalami kedukaan yang disebabkan oleh kematian. Rambu solo' adalah sebuah tindakan pastoral yang bersifat holistic (fisik, mental, sosial dan spiritual). Melalui rambu solo, leluhur orang Toraja (Aluk Todolo) mengelola secara kreatif kedukaan yang mereka alami dalam penataan ritus yang tersusun sedemikian rupa sehingga 4 fungsi dasar tindakan pastoral (menyembuhkan, membimbing, menopang, dan memperbaiki hubungan) dan juga 3 fungsi tambahan yaitu mengutuhkan, memberdayakan, dan mengasuh, dapat terlaksana dengan baik. Penelitian menemukan bahwa: fungsi membimbing terdapat dalam pertemuan keluarga; fungsi menyembuhkan, menopang dan memperbaiki hubungan terdapat dalam beberapa ritus setelah pertemuan keluarga sampai dengan ritus penguburan, seperti tawa bongi, pebabaran dan ma'patekka; fungsi mengutuhkan, memberdayakan, dan mengasuh terdapat dalam beberapa ritus pasca penguburan seperti pendioran, sosoan barata dan ma'balik daun.
URI: http://repository.uksw.edu/handle/123456789/4090
Appears in Collections:T2 - Master of Religion Sociology

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
T2_752011033_Judul.pdfHalaman Judul3.26 MBAdobe PDFView/Open
T2_752011033_BAB I.pdfBab II707.46 kBAdobe PDFView/Open
T2_752011033_BAB II.pdfBab II1.18 MBAdobe PDFView/Open
T2_752011033_BAB III.pdfBab III4.09 MBAdobe PDFView/Open
T2_752011033_BAB IV.pdfBab IV844.56 kBAdobe PDFView/Open
T2_752011033_BAB V.pdfBab V450.07 kBAdobe PDFView/Open
T2_752011033_Daftar Pustaka.pdfDaftar Pustaka393.23 kBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.