DSpace logo

Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uksw.edu/handle/123456789/4096
Title: Gereja dan Homoseksualitas Suatu Analisa Tentang Sikap Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Terhadap Homoseksualitas dan Faktor-Faktor Pendukungnya
Authors: Titaley, John. A.
Messakh, Thobias A.
Jeriska Soselisa, Rifensia
Keywords: homoseksualitas;heteroseksualitas;GPIB;Pemahaman Iman;Akta Gereja;kuasa-pengetahuan-kenikmatan;dan hak asasi manusia
Issue Date: 2013
Publisher: Magister Sosiologi Agama Program Pascasarjana FTEO-UKSW
Abstract: Perbincangan tentang seksualitas manusia selalu menjadi topik yang menarik perhatian masyarakat. Anehnya, daya tarik seksualitas seringkali berbanding lurus dengan keengganan masyarakat untuk memperbincangkannya secara terbuka, alias masih dianggap tabu. Apalagi jika seksualitas dikaitkan dengan hubungan sesama jenis, maka antusiasme masyarakat setara dengan sikap penolakan yang tegas. Hingga kini, fenomena homoseksualitas masih mengalami dilematisasi dan diperdebatkan dalam ranah-ranah sosial. Tidak sedikit pihak yang menilai bahwa kaum homoseksual merupakan orang-orang “abnormal” atau bahkan “amoral”. Manusia di berbagai belahan dunia bagaimanapun juga akan berhubungan dengan kehidupan sosial bersama orang lain di lingkungannya masing-masing. Pengakuan terhadap eksistensinya adalah salah satu syarat mutlak bagi keberadaan setiap individu untuk dapat bersosialisasi, mencari rejeki dan melakukan aktivitas sehari-hari dalam rangka mempertahankan hidupnya. Demikian halnya dengan kaum homoseksual. Namun realitanya, para gay dan lesbian ini tidak dengan mudah memperoleh pengakuan itu. Kenyataan bahwa masyarakat Indonesia yang secara budayawi dan normatif hanya mengakui hubungan heteroseksual kerap kali menimbulkan suasana represi bagi kaum homoseksual. Sebab bagaimanapun juga, kehidupan sosial masyarakat tidak terlepas dari pemberlakuan norma yang tidak merestui adanya seksualitas non-prokreatif. Tidak dapat dipungkiri bahwa kaidahkaidah normatif yang menjiwai masyarakat Indonesia kuat dipengaruhi oleh pandangan agama termasuk gereja. Dalam pembahasan mengenai homoseksualitas, Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) memiliki perspektif yang tidak berbeda dari masyarakat Indonesia umumnya. Karena gereja juga merupakan bagian dari masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi nilai dan norma yang berlaku di negara ini. Selain alasan bernuansa sosiologis tersebut, ketidaksetujuan gereja terhadap homoseksualitas juga kokoh dilatar-dasari oleh pemahaman teologis yang bersumber dari Kitab Suci (Alkitab) tentang manusia dan perkawinan. Hal ini terlihat dalam Dokumen Pemahaman Iman dan Akta Gereja yang dimiliki oleh GPIB. Gereja memahami bahwa manusia adalah karya keagungan Tuhan yang terdiri atas dua jenis kelamin, yakni laki-laki dan perempuan, dengan begitu hubungan seksual yang diakui adalah antara manusia laki-laki dan perempuan yang terjadi di dalam ikatan pernikahan. Di luar dari itu, gereja menganggapnya sebagai bentuk perzinahan. Gereja akan selalu memposisikan hak kodrati ilahi yang ditetapkan Allah kepada manusia sebagai yang utama. Oleh sebab itu, pendekatan hak asasi manusia nampaknya belum menjadi alasan yang kuat untuk membenarkan homoseksualitas. Untuk menangkis pemahaman yang ekslusif ini, penulis mengangkat buah piker Michel Foucault yang menyingkap seksualitas sebagai produk relasi kuasa-pengetahuankenikmatan (power-knowledge-pleasure). Melalui penjelasan Foucault, dipahami bahwa seksualitas tidak melulu “diperangkapkan” dalam determinisme biologis, yang pada akhirnya membuat seksualitas semakin rumit dipahami, karena hanya menggunakan pendekatan alamiah. Bahwa masing-masing orang terlahir hanya dengan satu seks dan oleh sebab itu anatomi tubuh manusia harus disesuaikan dengan sifat maskulin dan feminim. Foucault justru memandang bahwa manusia ketika dilahirkan, ia adalah makhluk biseks. Yang akan mengkonstruksi seksualitasnya adalah lingkungan sosial dimana ia memperoleh pendidikan seksualnya. Sehingga secara eksplisit Foucault ingin menyampaikan bahwa heteroseksualitas bukan satu-satunya kebenaran. Heteroseksualitas menjadi kokoh di masa kini karena “praktik diskursus” oleh perlindungan mekanisme-mekanisme kuasa yang mengutamakan seksualitas prokreatif sejak dulu kala. Pada akhirnya kecenderungan sistem berpikir masyarakat terpola dan terfokus pada seksualitas hetero yang dimutlakkan. Akibatnya, orang-orang yang melakukan seksualitas non-prokreatif mengalami apa yang disebut Foucault sebagai tirani seksualitas. Dari segi itulah, pendekatan hak dapat tertopang untuk menolong mewujudkan tindakan antidiskriminasi terhadap kaum homoseksual. Bagaimanapun juga gereja diharapkan tidak terperangkap dalam mekanisme-mekanisme kuasa yang disadari oleh Foucault, serta dapat berperan menjadi agen-agen anti-diskriminasi melalui proses pembelajaran yang bersifat transormatif dan menjunjung tinggi hak-hak setiap individu.
URI: http://repository.uksw.edu/handle/123456789/4096
Appears in Collections:T2 - Master of Religion Sociology

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
T2_752011046_Judul.pdfHalaman Judul693.34 kBAdobe PDFView/Open
T2_752011046_BAB I.pdfBab I556.77 kBAdobe PDFView/Open
T2_752011046_BAB II.pdfBab III1.02 MBAdobe PDFView/Open
T2_752011046_BAB III.pdfBab III1.39 MBAdobe PDFView/Open
T2_752011046_BAB IV.pdfBab IV753.68 kBAdobe PDFView/Open
T2_752011046_BAB V.pdfBab V245.04 kBAdobe PDFView/Open
T2_752011046_Daftar Pustaka.pdfDaftar Pustaka289.04 kBAdobe PDFView/Open
T2_752011046_Lampiran.pdfLampiran251.04 kBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.