DSpace logo

Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.uksw.edu/handle/123456789/4100
Title: Kawin Lari Suatu Kajian Sosio-Antropologi terhadap Nilai Luhur dari Kawin Lari dalam Perkawinan Adat Suku Sasak
Authors: Samiyono, David
Nuban Timo, Ebenhaizer I.
Giovannis Tahalele, Min
Issue Date: 2013
Publisher: Magister Sosiologi Agama Program Pascasarjana FTEO-UKSW
Abstract: Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman suku dengan budaya dan adat-istiadatnya masing-masing. Budaya dari suku yang satu berbeda dengan budaya dari suku yang lain. Perbedaan inilah yang membuat budaya Indonesia begitu indah. Salah satu keindahan budaya Indonesia yang dibahas dalam tulisan ini yaitu tentang perkawinan adat dari suku Sasak. Dalam perkawinan adat suku Sasak pasangan atau calon pengantin harus merencanakan kawin lari sebelum masuk ke perkawinan. Menurut Koentjaraningrat, perkawinan merupakan salah satu unsur dari kebudayaan. Perkawinan merupakan suatu aktivitas dari sepasang manusia untuk hidup bersama. Begitu pentingnya momen sebuah perkawinan, sehingga setiap orang umumnya menginginkan merayakan momen itu dalam sebuah upacara yang sakral dan meriah, dengan melibatkan para kerabat dan unsur masyarakat lainnya. Bagi orang Sasak, Perkawinan merupakan suatu proses yang sangat mulia yang wajib dijalani oleh manusia dalam rangka untuk mewujudkan cinta dan kasih sayang serta meneruskan keturunan. Sangat mulia karena di dalam perkawinan adat mereka terkandung nilai-nilai luhur. Pemahaman orang Sasak mengenai perkawinan lari ialah suatu proses ke arah perkawinan yang wajib mereka lakukan yang dinamakan merariq. Apabila kawin lari tidak dilakukan maka pasangan tersebut dianggap tidak sopan. Dalam pandangan masyarakat Sasak, Perkawinan lari mempunyai dampak yang positif dan memiliki tujuan yang positif. Bagi para pemuda, ketika mereka berhasil membawa lari gadis yang mereka sukai dan cintai untuk dinikahi maka mereka sudah menunjukan keberanian mereka. bagi para gadis, saat mereka dibawa lari maka mereka merasa bahwa mereka sangat dihargai. Hal Inilah sebagai dampak postif yang dirasakan oleh orang Sasak ketika mereka melakukan kawin lari. Tujuan kawin lari bagi orang Sasak yaitu untuk memenuhi persyaratan adat. Selain itu, ada juga yang mengatakan bahwa kawin lari dilakukan untuk mencegah pemuda yang lain mengambil gadis pujaan hatinya terlebih dulu, mengingat kisah puteri Mandalika yang direbut oleh banyak pangeran, alhasil tidak ada satupun pangeran yang mendapakannya karena sang Putri telah bunuh diri. Setelah melakukan beberapa analisa, penulis telah mencoba mencari dampak postif dari tradisi kawin lari. Dari semua dampak positif terkandung di dalamnya nilai-nilai dari kebudayaan masyarakat Sasak. Nilai-nilai ini bagi penulis merupakan nilai-nilai yang terbentuk dengan kesadaran penuh dan juga merupakan suatu kebaikan yang terdapat di dalamnya. Dalam konteks inilah, penulis memilih untuk menggunakan istilah nilai luhur dari masyarakat Sasak. Nilai luhur tersebut antara lain: penghargaan terhadap perempuan, keberanian, dan menjunjung tinggi perjuangan cinta. Bagi orang Sasak, kisah Puteri Mandalika memberikan pengertian tertentu dalam falsafah kehidupan mereka terutama yang berhubungan dengan perkawinan. Puteri Mandalika melakukan tindakan yang bersifat netral untuk menghindari terjadinya pertumpahan darah antara para pangeran yang ingin mempersuntingnya. Kejadian ini merupakan pelajaran berharga bagi orang Sasak. Mereka berusaha agar kisah sedih itu tidak terjadi dan jalan yang diambil ialah dengan membawa lari perempuan yang ingin dijadikan sebagai isteri. Di sini letak keseriusan mereka untuk mempertahankan seorang wanita yang di cintai dan juga menjaganya dari lelaki lain dan terutama menyelamatkan nyawa perempuan yang mereka cintai agar tidak melakukan tindakan yang berbahaya terutama tindakan bunuh diri. Bagi lelaki Sasak, ini adalah tindakan yang “jantan” atau tindakan yang menunjukkan bahwa mereka mampu menjadi suami dari perempuan yang dibawa lari. Lelaki Sasak mencoba untuk meyakinkan bahwa mereka harus melindungi perempuan karena perempuan adalah makhluk yang berharga dan mereka tidak sama seperti binatang yang bisa ditawar-tawar. Dalam konteks ini, orang Sasak memiliki tingkat penghargaan terhadap perempuan yang tinggi. Dengan membawa lari seorang perempuan, bagi saya ini merupakan cara mereka sendiri yang berasal dari landasan berpikir mereka. Nilai dan harga diri seorang perempuan bagi orang Sasak adalah sesuatu yang tak bisa ditukar dengan ucapan dan juga uang. Perlu tindakan yang berani untuk bisa membayar nilai-nilai dalam diri perempuan Sasak. Dari sini bisa juga dikatakan bahwa perempuan Sasak juga memiliki penilaian tersendiri bagi para lelaki Sasak. Seorang lelaki disebut lelaki, ketika dia mampu memenuhi tuntutan tradisi perkawinan Sasak. Melalui pemahaman masyarakat Sasak tentang kawin lari tersebut, maka keunikan dari perkawinan adat suku Sasak ini membuat penulis sadar bahwa kawin lari tidak selamanya harus dianggap negatif. Ada sisi positif yang bisa kita temukan salah satunya melalui adat perkawinan merariq ini. Akan tetapi, kita juga tidak bisa menyalahkan budaya masyarakat yang menolak prosesi kawin lari ini. Karena mereka sudah dibentuk oleh persyaratan adat-istiadat mereka sendiri. Inilah keragaman budaya yang ada. Bukankah itu merupakan ciri khas dari bangsa Indonesia? Seperti yang kita ketahui sebagian besar masyarakat Indonesia menganggap prosesi seperti itu negatif. Melalui penelitian ini, penulis mencoba untuk menyadarkan kita sebagai orang-orang Indonesia untuk menjaga keunikan budaya kita bukan hanya mencintai dan menjaga budaya di daerah kita sendiri, melainkan menjaga budaya Indonesia seluruhnya dari sabang sampai merauke.
URI: http://repository.uksw.edu/handle/123456789/4100
Appears in Collections:T2 - Master of Religion Sociology

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
T2_752011051_Judul.pdfHalaman Judul1.28 MBAdobe PDFView/Open
T2_752011051_BAB I.pdfBab I558.9 kBAdobe PDFView/Open
T2_752011051_BAB II.pdfBab II983.75 kBAdobe PDFView/Open
T2_752011051_BAB III.pdfBab III1.04 MBAdobe PDFView/Open
T2_752011051_BAB IV.pdfBab IV755.17 kBAdobe PDFView/Open
T2_752011051_BAB V.pdfBab V212.88 kBAdobe PDFView/Open
T2_752011051_Daftar Pustaka.pdfDaftar Pustaka240.86 kBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.