DSpace logo

Please use this identifier to cite or link to this item: https://repository.uksw.edu/handle/123456789/12283
Title: Eksklusivisme Keselamatan dalam Yohanes 14:6: suatu tinjauan kritis-teologis tentang pemahaman warga jemaat GPIB Harapan Baru Bekasi terhadap konsep keselamatan dalam Yoh 14:6
Authors: Pattiasina, Florensia Theograsia
Keywords: eksklusivisme;keselamatan;yohanes;injil;sorga;rumah bapa;kebenaran;jalan;hidup;Yesus;Kristen;eksklusivitas;GPIB
Issue Date: 2015
Publisher: Program Studi Teologi FTEO-UKSW
Abstract: Warga jemaat GPIB Harapan Baru Bekasi berkeyakinan bahwa seseorang harus menjadi Kristen terlebih dahulu supaya dapat memperoleh keselamatan. Yang mereka maksudkan dengan memperoleh keselamatan adalah masuk sorga. Dengan kata lain, seseorang dapat masuk sorga jika agamanya adalah Kristen. Landasan biblis yang mereka pakai untuk mensahihkan keyakinan mereka adalah teks Yohanes 14:6 "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku" (TB-LAI). Sadar atau tidak, masih ada orang-orang Kristen yang berkeyakinan seperti itu. Cara pandang itulah yang melahirkan eksklusivisme. Orang Kristen menganggap merekalah yang paling benar dan yang lain salah. Berdasarkan hasil pendekatan historis-kritis, saya menemukan beberapa hal. Keselamatan di dalam iman Kristen tidak memiliki arti yang setara dengan masuk sorga. Masuk sorga adalah konsep yang lahir dalam kultur yudaisme. Keselamatan di dalam kekristenan memiliki tiga dimensi makna. Berdimensi masa lalu ketika peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, berdimensi masa kini ketika umat Kristiani masih dapat merasakan kehadiran Yesus Kristus melalui Roh Kudus, dan berdimensi masa depan ketika tujuan-tujuan Allah telah terpenuhi. Apa yang dipahami warga jemaat tentang keselamatan, saya sebut sebagai keselamatan dalam arti sempit. Keselamatan yang dipahami seperti itu (sempit) sama sekali tidak terkandung dalam teks Yoh 14:6. Yang disampaikan teks tersebut adalah orang-orang Yahudi haruslah mengenal siapa itu Yesus Kristus untuk dapat mengenal siapa Allah, Sang Bapa. Tidak ada cara lain. Kesalahan pemahaman seperti itu terjadi karena warga jemaat tidak melihat teks sebagai suatu teks sejarah. Mereka tidak memperhatikan konteks teks Yoh 14:6. Mereka menginterpretasi teks tersebut berdasarkan pengalaman kehidupan mereka setiap hari. Sinode GPIB sudah memiliki konfesi yang jelas tentang doktrin keselamatan, tetapi warga jemaat tidak memahami konfesi tersebut secara penuh. Ketidaksempurnaan akan selalu ada, tetapi jika ketidaksempurnaan terus kita pelihara maka yang lahir berikutnya adalah kesalahan. Paradigma berpikir yang salah tentang pesan teks Yoh 14:6 harus dihentikan.
URI: http://repository.uksw.edu/handle/123456789/12283
Appears in Collections:T1 - Theology

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
T1_712010001_Abstract.pdfAbstract119.89 kBAdobe PDFView/Open
T1_712010001_Full text.pdfFull text3.35 MBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.