DSpace logo

Please use this identifier to cite or link to this item: https://repository.uksw.edu/handle/123456789/12322
Title: Kajian dari Teori Feminis Sosialis-Marxis Terhadap Fenomena Hamil di Luar Nikah di GKI Immanuel Boswezen Sorong
Authors: Kurniasih
Issue Date: 2015
Publisher: Magister Sosiologi Agama Program Pascasarjana FTEO-UKSW
Abstract: Penelitian ini membahas judul kajian dari teori feminis Sosialis-Marxis terhadap fenomena hamil di luar nikah di GKI Immanuel Boswezen Sorong. Rumusan masalah dalam tesis ini adalah bagaimana fenomena perempuan hamil di luar nikah dalam konteks Gereja, serta bagaimana realita perempuan yang hamil di luar nikah bila dikaji dari perspektif teori feminis Sosialis-Marxis. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data penelitian di peroleh melalui wawancara, observasi, dan focus group discussion. Wawancara langsung di lakukan kepada Pendeta, tua-tua adat, kepala suku, dan majelis gereja, perempuan yang mengalami hamil di luar nikah. Teknik focus group discussion (FGD) yang melibatkan tujuh pasangan suami istri.Untuk teori rujukan digunakan teori tentang Gereja penyebab kehamilan di luar nikah, teori feminis, dan teori ketidakadilan jender. Sebagai hasil penelitian di temukan bahwa dalam pandangan agama manapun dikatakan bahwa hamil di luar nikah adalah dosa, terutama dalam Kekristenan hamil di luar nikah adalah zinah karena sudah melanggar 10 hukum Tuhan terutama hukum yang ke-enam yaitu jangan berzinah. Berbagai pemahaman yang di dapat baik dari para Pendeta, tua-tua adat, perempuan yang hamil di luar nikah, laki-laki yang menghamili, juga mengatakan hal yang sama yakni bahwa hamil di luar nikah adalah dosa, dan yang harus dilakukan pada umumnya adalah segera dinikahkan dan diberikan pelayanan pastoral. Faktorfaktor penyebab kehamilan di luar nikah yakni banyaknya hiburan malam pub atau kelab malam, dampak negatif dari kemajuan teknologi, pengaruh teman atau lingkungan, lemahnya pendidikan agama Kristen dalam keluarga, dan kurangnya perhatian orang tua. Fenomena mahalnya mas kawin dan sanksi adat yang dibebankan pihak perempuan kepada laki-laki membuat laki-laki Papua harus membayar mas kawin dan sanksi adat. Dalam perspektif feminis sosialis-marxis laki-laki dianggap borjuis atau yang mempunyai uang sedangkan perempuan yang’’dibelis’’ sebagai proletar, akibatnya perempuan yang dirugikan tidak dihargai baik dalam adat, Gereja, dan masyarakat.Akhirnya diberikan beberapa saran bagi Gereja supaya memberikan pemahaman kepada setiap warga terutama kepada laki-laki dan perempuan tentang pentingnya kesetaraan jender dan ideologi patriarkhi dan dampak dari seks bebas mengakibatkan hamil di luar nikah. Bagi orang tua diharapkan dapat selalu mengontrol setiap kegiatan anak-anak mereka, serta selalu menyediakan waktu untuk dapat mendampingi dan berdiskusi tentang masalah-masalah yang dihadapi oleh anak terutama masalah hamil di luar nikah. Bagi laki-laki dan perempuan, dan remaja, khususnya remaja jemaat perlu memilik rasa takut akan Tuhan, menjadikan nilai-nilai Kristiani sebagai filter untuk menyaring berbagai perbuatan yang menyimpang, menyadari dampak ideologi patriarkhi dan kesetaraan jender.perspektif dari para responden, penulis memaparkankonteks dominasi Romawi yang mempengaruhi konteks sosial, ekonomi, budaya pada masa Injil Matius. Dominasi Romawi yang begitu kuat mempengaruhi kehidupan orang-orang yang berada dalam wilayah jajahan Romawi. Salah satu gaya hidup Romawi yang memiliki pengaruh kuat adalah tindakan bercerai dipandang sebagai hal biasa dan wajar. Larangan perceraian yang diungkapkan Yesus merupakan resistensi terhadap dominasi Romawi yang semena-mena dan bentuk keberpihakan Yesus terhadap kaum perempuan yang termarginalkan. Sikap Yesus menggambarkan budaya hibriditas, yaitu mengunakan hukum Yahudi dalam hal perceraian dan memberikan makna baru idalamnya.Keberpihakan Yesus terhadap perempuan menjadi landasan untuk mendapatkan makna baru dalam memahami teks Matius 19:1-12. Tindakan perceraian dalam kacamata baru kelima responden merupakan bentuk kepedulian dan keberpihakan Allah terhadap korban kekerasan dalam rumah tangga. Perceraian merupakan peristiwa yang membebaskan dan memerdekakan setiap pribadi yang hidupnya terkungkung dengan tindakan kekerasan. Makna baru yang muncul dari konteks dan perspektif penafsir memberikan petunjuk bagi gereja untuk meninggalkan sikap menghakimi dan diskriminatif terhadap jemaat yang bercerai, bahkan dapat lebih peka serta sigap untuk menghadirkan program-program yang menyuarakan tentang keadilan gender.
URI: http://repository.uksw.edu/handle/123456789/12322
Appears in Collections:T2 - Master of Religion Sociology

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
T1_752012010_BAB I.pdfBab I741.29 kBAdobe PDFView/Open
T1_752012010_BAB II.pdfBab II1.78 MBAdobe PDFView/Open
T1_752012010_BAB III.pdfBab III1.35 MBAdobe PDFView/Open
T1_752012010_BAB IV.pdfBab IV1.19 MBAdobe PDFView/Open
T1_752012010_BAB V.pdfBab V399.33 kBAdobe PDFView/Open
T1_752012010_Daftar Pustaka.pdfDaftar Pustaka264.86 kBAdobe PDFView/Open
T1_752012010_Judul.pdfHalaman Judul1.52 MBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.