DSpace logo

Please use this identifier to cite or link to this item: https://repository.uksw.edu/handle/123456789/1474
Title: "Budaya Penyimpanan Jenazah" ( Suatu Study Kasus Adat Penyimpanan Jenazah dalam Masyarakat Sumba di Jemaat GKS Lambanapu )
Authors: Djola Kalunga, Rambu
Issue Date: 2012
Publisher: Program Studi Teologi FTEO-UKSW
Abstract: Manusia selalu menyatu dengan kebudayaan dan sebaliknya juga menyatu dalam diri manusia. Persatuan ini membentuk identitas pribadinya. Mengapa demikian? Menurut Tri Widiarto budaya lahir dari ide-ide yang disepakati secara bersama dan kemudian dikembangkan menjadi sebuah norma untuk mengatur komunitas dimana seseorang berada.1 Sistem-sistem kepercayaan yang disepakati bersama inilah yang kemudian diturunalihkan kepada generasi selanjutnya. Melalui kebudayaan manusia dapat berkomunikasi dengan melestarikan dan mengembangkan pengetahuan mereka mengenai kehidupan. Apabila manusia di cabut dari akar budayanya, ia bukan lagi orang itu, karena ia tidak dapat terlepas dari budaya dimana ia hidup. Salah satu cara manusia untuk melahirkan, mengembangkan dan mewarisi kebudayaan adalah kebiasaan menyimpan jenasah dalam kurun waktu yang lama. Budaya penyimpanan jenasah ini merupakan salah satu kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang yang masih menganut kepercayaan Marapu, namun dalam prakteknya pada masyarakat Sumba Timur khususnya di Jemaat Lambanapu yang sudah beragama Kristen pun masih melakukan budaya penyimpanan jenasah yang merupakan kebiasaan dari kepercayaan Marapu. Pada masyarakat Sumba terkhususnya jemaat Lambanapu, dalam melakukan budaya penyimpanan jenasah ada upacara yang dilakukan, yaitu upacara kaba tana kawaru watu, dalam upacara ini jenasah dimasukan kedalam peti tanah atau batu kemudian di makamkan pada makam sementara bukan makam sesungguhnya, cara lain lagi ialah jenasah dimasukan dalam kabangu (keranda atau peti) kemudian diletakkan dalam senuah kawarungu (pondok) yang dibuat ditengah halaman atau dapat pula diletakan di kaheli bokulu yakni disalah sau kamar dirumah. Penyimpanan jenasah ini dapat berlangsung dua bulan, empat bulan atau lebih bahkan adakalanya hingga bertahun-tahun tergantung mungkin atau tidaknya upacara pemakaman dilakukan. Adapun alasan dari masyarakat Sumba terkhususnya jemaat Lambanapu dalam melakukan budaya penyimpanan jenasah yaitu karena adanya faktor Ekonomi (merupakan pemborosan dalam kehidupan orang Sumba), harga diri dan status sosial dalam keluarga. Sebenarnya ketika dilihat dari segi kesehatan sebenarnya penyimpanan jenasah yang lama ini tidak baik karena dapat menyebabkan timbulnya beberapa penyakit. Pada initinya selain faktor diatas menurut hemat saya budaya penyimpanan jenasah ini terus dilakukan oleh masyarakat Sumba terkhususnya dijemaat Lambanapu karena sebenarnya budaya ini memiliki kaitan erat dengan atau lebih mengarah pada upaya mempertahankan status sosial dari keluarga yang bersangkutan. Hal lain yang saya temui adalah bahwa memang tidak ada ketetapan sanksi khusus yang diberikan kepada anggota masyarakat jika ia melaksanakan budaya penyimpanan jenasah.
Description: Lembar Pengesahan tidak disertai tanda tangan dosen pembimbing
URI: http://repository.uksw.edu/handle/123456789/1474
Appears in Collections:T1 - Theology

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
xT1_712007040_Judul.pdfHalaman Judul902.63 kBAdobe PDFView/Open
xT1_712007040_Daftar Pustaka.pdfDaftar Pustaka151.48 kBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.