Please use this identifier to cite or link to this item: https://repository.uksw.edu//handle/123456789/22450
Title: Topeng Ireng lan Lelakune: Sebuah Komposisi Suita Modern untuk Chamber
Authors: Andress, Michael
Keywords: topeng ireng;suita modern
Issue Date: 15-Dec-2021
Abstract: Topeng Ireng lan Lelakune, Sebuah Komposisi Suita Modern Untuk Chamber merupakan komposisi musik yang mengambil dua unsur musik yaitu musik lokal dan musik barat, penggabungan antara kesenian lokal Magelang Topeng Ireng dengan mengambil unsur musik dari iringan dan musik barat yaitu suita modern. Terbagi menjadi 3 movement yaitu Dayakan, Montolan, Kewanan dengan format instrumen vibraphone, conga, drum, vokal jawa (sinden), flute, trumpet, alto saxophone, trombone, dan piano. Penggabungan dua unsur antara suita modern dan Topeng Ireng bertujuan untuk memberi unsur kebaruan dalam sebuah pertunjukan Topeng Ireng dan sebagai salah satu wujud untuk melestarikan kesenian tersebut. Masing masing movement memiliki alur cerita yang saling berhubungan. Dayakan menceritakan sebuah pertunjukan Topeng Ireng, penulis hanya memindah media instrumen. Montolan menceritakan adanya penggabungan unsur suita modern yang menciptakan sebuah kebaruan yang masih sulit diterima dengan merubah sukat 4/4 menjadi 6/8 dan kembali menjadi 4/4. Kewanan menceritakan hasil penggabungan antara suita modern dengan Topeng Ireng dengan menambah cerita kisah reinkarnasi seperti cerita dalam pertunjukan Topeng Ireng pada umumnya.
Topeng Ireng lan Lelakune, modern suite composition for chamber was a musical composition that takes two musical element local music and western music, a combination of local Magelang art Topeng Ireng by taking musical element from accompaniment and western music modern suite. Divided into 3 movements, Dayakan, Montolan, Kewanan with the instrument format vibraphone, conga, drum, Javanese vocal(sinden), flute, trumpet, alto saxophone, trombone and piano. The merging of the two elements between modern suite and Topeng Ireng is to give a new element in a Topeng Ireng performance and as a form of preserving the art. Each movement has a storyline that relates one movement to another. Dayakan tells of a performance of Topeng Ireng, the author only changes the instrument media. Montolan tells the merging of modern suite element which creates a new element that is still difficult to accept by changing time signature 4/4 to 6/8 and back to 6/8. Kewanan tells the result of the merger between the modern suite and Topeng Ireng by adding elements of the story in the show by taking the reincarnation story like the story in Topeng Ireng performances.
URI: https://repository.uksw.edu/handle/123456789/22450
Appears in Collections:T1 - Music Arts

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
T1_852017010_Judul1.97 MBAdobe PDFView/Open
T1_852017010_BAB I.pdf750.86 kBAdobe PDFView/Open
T1_852017010_BAB II.pdf2.17 MBAdobe PDFView/Open
T1_852017010_BAB III.pdf816.54 kBAdobe PDFView/Open
T1_852017010_BAB IV.pdf4.13 MBAdobe PDFView/Open
T1_852017010_BAB V.pdf374.83 kBAdobe PDFView/Open
T1_852017010_Daftar Pustaka189.42 kBAdobe PDFView/Open
T1_852017010_Lampiran 11.47 MBAdobe PDFView/Open
T1_852017010_Lampiran 2308.6 kBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.