Please use this identifier to cite or link to this item: https://repository.uksw.edu//handle/123456789/25940
Title: Potensi Diplomasi Kopi terhadap Peningkatan Perdagangan Kopi antara Indonesia dan Selandia Baru Tahun 2017-2019
Authors: Patiran, Maria Gracella
Keywords: Indonesia;Selandia Baru;Kopi;Diplomasi Kopi;Diplomasi Publik;Perdagangan
Issue Date: 30-Jun-2022
Abstract: Indonesia adalah negara penghasil kopi terbesar ke-4 di dunia dan Selandia Baru merupakan negara yang menduduki peringkat ke-13 sebagai negara dengan tingkat konsumsi kopi tertinggi di dunia. Presiden Jokowi memanfaatkan peluang ini saat kunjungannya ke Selandia Baru pada Maret 2018 dengan mengajak pemerintah Selandia Baru untuk meminum kopi Indonesia karena cara terbaik untuk mengenal Indonesia adalah dengan meminum kopi dari Indonesia. Tindakan yang dilakukan Presiden Jokowi ini kemudian dikenal dengan istilah diplomsi kopi. Diplomasi kopi adalah bentuk strategi kebijakan luar negeri Indonesia yang dilakukan oleh Jokowi untuk memperlancar kerjasama atau mempererat hubungan bilateral Indonesia dengan negara lainnya. Maka dari itu, penulisan ini dilakukan untuk menganalisis potensi diplomasi kopi yang dilakukan oleh Indonesia terhadap peningkatan perdagangan kopi antara Indonesia dan Selandia Baru dari tahun 2017 hingga 2019 dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan dilihat dari sudut pandang diplomasi publik menurut Eytan Gilboa. Dimana dalam pemikiran Gilboa, ia mengkategorisasikan diplomasi publik ke berbagai kategori tertentu dan memiliki berbagai instrumen, salah satu instrumennya adalah branding. Berangkat dari pemikiran Gilboa dan dari data yang ada, penelitian ini menunjukkan bahwa diplomasi kopi Indonesia memiliki potensi yang sangat baik karena setelah diplomasi kopi dilakukan di Selandia Baru, terdapat peningkatan perdagangan kopi sebesar 20,4% dibandingkan tahun sebelumnya.
Indonesia is the 4th largest coffee producing country in the world and New Zealand is ranked 13th as the country with the highest level of coffee consumption in the world. President Jokowi took advantage of this opportunity during his visit to New Zealand in March 2018 by engage the New Zealand government to drink Indonesian coffee because the best way to get to know Indonesia is drink coffee from Indonesia. This action taken by President Jokowi became known as coffee diplomacy. Coffee diplomacy is a form of Indonesian foreign policy strategy done by Jokowi to facilitate cooperation or strengthen Indonesia's bilateral relations with other countries. Therefore, this paper was conducted to analyze the potential of coffee diplomacy by Indonesia to increase the coffee trade between Indonesia and New Zealand from 2017 to 2019 using qualitative approach and viewed from the point of view of public diplomacy according to Eytan Gilboa. Eytan Gilboa categorizes public diplomacy into certain categories and has various instruments, one of the instruments is branding. Departing from Gilboa's thoughts and from the existing data, this study shows that Indonesian coffee diplomacy has very good potential because after coffee diplomacy was done in New Zealand, there was an increase in coffee trade by 20.4% compared to the previous year.
URI: https://repository.uksw.edu/handle/123456789/25940
Appears in Collections:T1 - International Relations

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
T1_372015068_Judul.pdf965.76 kBAdobe PDFView/Open
T1_372015068_Bab I.pdf321.39 kBAdobe PDFView/Open
T1_372015068_Bab II.pdf358.43 kBAdobe PDFView/Open
T1_372015068_Bab III.pdf248.63 kBAdobe PDFView/Open
T1_372015068_Bab IV.pdf653.87 kBAdobe PDFView/Open
T1_372015068_Bab V.pdf570.41 kBAdobe PDFView/Open
T1_372015068_Bab VI.pdf303.67 kBAdobe PDFView/Open
T1_372015068_Daftar Pustaka.pdf321.11 kBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.