Please use this identifier to cite or link to this item: https://repository.uksw.edu//handle/123456789/26456
Title: Produksi Film Dokumenter “Menjadi Radar”
Authors: Pasaribu, Rivaldy
Keywords: kekerasan seksual berbasis gender online;Revenge Porn;vulgar/intim;korban bangkit dan pulih;victim blaming;menjadi rada
Issue Date: 29-Jul-2022
Abstract: Kekerasan seksual berbasis gender online, revenge porn. secara harafiah memiliki arti pornografi balas dendam, dimana pelaku melakukan pengancaman kepada korban, akan menyebarkan konten intim berupa video ataupun foto korban ke media social, apabila keinginan pelaku tidak terpenuhi. namun kerap kali ditemui, pelaku akan langsung menyebarkan foto atau video intim milik korban karena sudah sangat dendam ataupun benci, dapat disimpulkan kekerasan seksual berbasis gender, revenge porn, didasari oleh rasa benci dan dendam. Tak heran beberapa foto ataupun video vulgar/intim milik seseorang sering bersliweran di social media tanpa diketahui asal usul ataupun tujuan dari disebarkannya konten tersebut. Foto ataupun video vulgar/intim tersebut tentu akan mendapatkan berbagai respon, dan korban yang terpampang nyata pada foto atau video vulgar/intim tersebut cenderung mendapatkan stigma negative dari masyarakat, dicap sebagai aib instansi ataupun keluarga, bahkan dijauhi oleh lingkungan terdekatnya. Korban yang sudah menjadi korban, lagi-lagi menjadi korban, budaya Victim Blaming atau menyalahkan korban masih menjadi masalah di Negara Republik Indonesia ini, kondisi yang seperti inilah yang kemudian menutup ruang gerak korban untuk bangkit atau pulih dari permasalahan yang dialaminya, dan berujung dengan memburuknya kondisi korban hingga depresi, lebih buruk lagi, depresi yang tak kunjung membaik akhirnya memunculkan indikasi untuk bunuh diri. Minimnya kemungkinan untuk pulih, serta keinginan untuk bangit melawan, para korban kemudian tidak tahu harus melakukan apa, dan bingung untuk mencari perlindungan. Dari sekian banyak korban yang ada, tentu tidak menutup kemungkian, terdapat korban yang mampu bangkit dan pulih, tentunya dengan proses yang tidak mudah dan singkat, dan dengan adanya korban yang dapat bangkit dan pulih inilah yang akhirnya memberikan secercah harapan bagi korban yang lainnya. Dengan cara membagikan kisah hidupnya, diharapkan dapat memantik para korban di luar sana untuk ikut bersama melawan, dan bangkit untuk memperjuangkan haknya. Selain berguna untuk para korban, kisah hidupnya tentu dapat bermanfaat dan berdampak, serta menjadi radar di tengah-tengah masyarakat. Selain itu, terdapat pula satu jalan yang memudahkan para korban, yaitu melapor kepada LBH APIK. Pesan, serta nilai-nilai yang disampaikan oleh korban yang sudah bangkit, yang dilengkapi dengan statement dari pihak LBH APIK dan aktivis kemanusiaan, akan dikemas dalam bentuk Film Dokumenter berjudul “Menjadi Radar”. Sehingga diharapkan dapat bermanfaat, dan menjadi terang di tengah gelapnya dunia ini.
Online gender-based sexual violence, revenge porn. literally has the meaning of revenge pornography, where the perpetrator makes a threat to the victim, will spread intimate content in the form of videos or photos of the victim to social media, if the perpetrator's wishes are not fulfilled. however, it is often encountered, the perpetrator will immediately spread intimate photos or videos belonging to the victim because it is very vengeful or hateful, it can be concluded that gender-based sexual violence, revenge porn, is based on hatred and resentment. No wonder some vulgar/ intimate photos or videos of someone often circulate on social media without knowing the origin or purpose of the content being distributed. These vulgar/intimate photos or videos will certainly get various responses, and victims who are displayed in real vulgar/intimate photos or videos tend to get negative stigma from the community, labeled as a disgrace of the agency or family, and even shunned by their closest environment. Victims who have become victims, again become victims, the culture of Victim Blaming or victim blaming is still a problem in this Republic of Indonesia, conditions like this that then close the victim's wiggle room to rise or recover from the problems he experienced, and lead to the worsening of the victim's condition to depression, even worse, depression that never improves finally gives rise to indications of suicide. The lack of possibility of recovery, as well as the desire to resist, the victims then do not know what to do, and are at a loss to seek refuge. Of the many victims that exist, of course, it does not close the possibility, there are victims who are able to rise and recover, of course, with a process that is not easy and short, and with the presence of victims who can rise and recover, this is what finally gives a glimmer of hope for other victims. By sharing his life story, it is hoped that it can trigger the victims out there to join together to fight, and rise up to fight for their rights. In addition to being useful for the victims, his life story can certainly be useful and impactful, as well as being a radar in the midst of society. In addition, there is also one road that makes it easier for victims, namely reporting to LBH APIK. The message, as well as the values conveyed by the awakened victims, which is complemented by statements from LBH APIK and humanitarian activists, will be packaged in the form of a Documentary entitled "Menjadi Radar". So that it is expected to be useful, and to be a light in the midst of the darkness of this world.
URI: https://repository.uksw.edu/handle/123456789/26456
Appears in Collections:T1 - Communication

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
T1_362016085_Judul.pdf710.39 kBAdobe PDFView/Open
T1_362016085_BAB I.pdf640.45 kBAdobe PDFView/Open
T1_362016085_BAB II.pdf366.9 kBAdobe PDFView/Open
T1_362016085_BAB III.pdf1.03 MBAdobe PDFView/Open
T1_362016085_BAB IV.pdf3.16 MBAdobe PDFView/Open
T1_362016085_BAB V.pdf305.57 kBAdobe PDFView/Open
T1_362016085_Daftar_Pustaka.pdf283.32 kBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.