Please use this identifier to cite or link to this item: https://repository.uksw.edu//handle/123456789/33052
Title: Praktek Kejawen Ditengah Budaya Modern: Studi Kasus Tradisi “Metri Dusun” di Dusun Sugihan Desa Sugihan Kecamatan Tengaran
Authors: Pramono, Sidik
Keywords: metri dusun;Dusun Sugihan;nilai kejawen;habitus
Issue Date: Mar-2018
Abstract: Metri desa sebagai salah satu ritual kejawen dilakukan di dusun Sugihan desa Sugihan, metri desa memang menjadi acara yang diadakan ditiap desa yang ada kecamatan Tengaran, namun metri desa yang dilakukan di Dusun Sugihan desa Sugihan berbeda dengan metri desa yang dilakukan oleh desa lain, terletak pada acara utama yaitu tanggap wayangan dengan cerita Sri mulih, kalau didesa lain bisa diganti dengan reog tapi di dusun Sugihan harus acara wayangan semalam suntuk yang diadakan pada hari jumat pahing sesuai dengan penanggalan Jawa, kalau tidak ada akan muncul wayangan ghoib ditandai dengan terdengar suara gamelan mistis tanpa pemain. Selain itu metri desa di dusun Sugihan lebih dikenal dengan sebutan metri dusun karena dilakukan pada tingkatan dusun Sugihan. Adapun dusun-dusun lain termasuk dalam wilayah Desa Sugihan hanya berupa tamu undangan atau penonton saja. Berdasarkan latar belakang tersebut melihat bahwa penghayatan kejawen kepercayaan kuno masyarakat Jawa sedang dalam perjuangan mempertahankan eksistensinya ditengah masyarakat modern, sehingga penelitian berfokus pada pengalaman masyarakat metri dusun dalam mempraktekan nilai kejawen, masyarakat dusun Sugihan memaknai metri dusun sebagai nilai-nilai kehidupan, dan factor-faktor yang mendorong metri dusun terus dipertahankan di dusun Sugiahan. Sehingga penelitiannya menjadi referensi yang mendalam terkait dengan nilai-nilai spiritualitas kepercayaan kejawen yang secara terus menerus ditantang oleh pengaruh sains, moralitas sekuler, dan akal budi kritis dengan mengupas menggunakan teori habitus Pierre Bourdieu. Metode penelitiannya menggunakan pendekatan kontruktivistik yang jenis penelitiannya deskriptif ekplanatori nantinya dianalisis dengan metode analisis diskriptif kualitatif. Hasilnya menunjukkan bahwa pengalaman masyarakat dusun Sugihan dalam metri dusun masih dipengaruhi oleh sejarah atau tradisi nenek moyang yang dimaknai nenek moyang mempunyai andil besar dalam kesejahteraan dusun oleh karena itu metri dusun terus dilakukan dengan pementasan pewayangan lakon sri mulih walaupun anak mudanya cenderung hanya ikut-ikutan saja namun mereka mendukung metri dusun terus diselenggarakan karena mempunyai makna dan maksud yang baik bagi dusun Sugihan.
URI: https://repository.uksw.edu//handle/123456789/33052
Appears in Collections:T1 - Sociology



Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.